This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 30 April 2015

pembagian al ta



BAB II
PEMBAHASAN
(TA’)( التاء)
A. PembagianTa’ ( التاء)
1. Ta’ Maftuhah ( التاء المفتوحة)
وهي تاء منقوطة بنقطتين، ترسم مفتوحة، وتبقى تاء في الوقف.
Ta’ maftuhah adalah ta’ yang di tandai dengan dua titik di atas yang di tulis secara terbuka, dan apabila di baca waqaf tetap di baca ta’.
مسلمات , حسنات
Ta’ maftuhah dapat di ketahui di berbagai macam tempat sebagai berikut;
1. Apabila terletak pada isim mufrad yang di akhiri dengan huruf ta’[ت], dan huruf sebelumnya berharkat selain fathah (sukun, dhammah, kasrah).
Contoh;الوَقْتُ , البِنْتُ
2. Apabila terletak pada mashdar yang pada fi’ilnya tersebut terdiri dari ta’[ت].
Contoh; فَوْتًا - فَاتَ
سُكُوْتًا - سَكَتَ

3. Terletak pada dua penempatan, yaitu;
a. Apabila terletak pada fi’il madhi yang berakhiran dengan ta’[ت] dan sebelumnya berharkat sukun.
Contoh; بَاتَ
b. Terletak pada fi’il mudhari’ yang berakhiran dengan huruf ta’[ت] dan sebelumnya berharkat. Contoh; يَنْبِتُ
4. Terletak pada dua penempatan, yaitu;
a. Apabila ta’ yang berharkat sukun yang di sandarkan atau di gabungkan pada fi’il madhi dan sebelumnya berharkat.
Contoh; فَهِـمَـتْ
b. Apabila ta’ yang berharkat dan disambung dengan fi’il madhi yang sebelumnya sukun.
Contoh; أَدَيـْــتُ
Dan menurut perspektif ulama’ yang lain bahwasanya ta’ ta’nis al-sakin di akhir fi’il madhi harus di tulis ta’ maftuhah, قرأتْ ,dan juga pada fi’il mudhari’ mutaharrik, تـقـرأ , تسافر.
5. Terletak pada dua penempatan, yaitu;
a. Terletak pada ta’nya jama’ muannas al-salim .
Contoh; الحَسَاتُ , السَيِّئَاتُ
b. Ta’ yang di serupakan (mulhaq) pada jama’ muannas al-salim.
Contoh;أَوْلَاتٌ
6. Apabila terletak pada jama’ taksir yang pada mufradnya terdiri dari huruf ta’[ت].
Contoh; بُيُوْتٌ - بَيْتٌ
أَقْوَاتٌ - قُوَّت
7. Apabila ta’[ت] di gabungkan atau disambung dengan huruf sebagai berikut;
لا , ثم , رب , لعل
Contoh: لَا – لَاتَ
ثُمَّ - ثُمَّتَ
رُبَّ - رُبَّتَ
لَعَلَّ– لَعَلَّتْ
Dan apabila ta’ ta’nis yang terletak pada akhir kalimat isim harus di tulis ta’ marbuthah, contoh; معلمة , إبنة
B. Cara Penulisan Ta’ Maftuhah التاء المفتوحة))
1 Posisi lepas atau sendirian;
contoh :مسلمات , حسنات

2. Posisi awal
contoh :تــقع , تــكتب ,
3. Posisi tengah
contoh :مكتبة
4. Posisi akhir
contoh : ضربت , كانت

2. Ta’ Marbuthah
التّاءُ المربوطةُ: هيَ تاءٌ ترسمُ في آخرِ الاسمِ، وتُلفظُ
هاءً عندَ الوقوفِ عليها.
Ta’ marbuthah ialah ta’ yang di tulis di akhir isim, dan di baca ha’ yang apabila di baca waqaf(berhenti).contoh: روضة- شجرة

Ta’ marbuthah dapat di ketahui dari berbagai macam tempat sebagai berikut;
1. Apabila ta’[ت] terdapat dalam isim mufrad dan sebelumnya berharkat fathah, baik secara tertulis atau di simpan.
Contoh; lafdhan; طَيِّبَةٌ
Takdiran; الفَتَّاةٌ
2. Terletak pada jama’ takstir yang apabila isim mufradnya tidak terdiri dari huruf ta’[ت].
Contoh; قَضَّاةٌ jama’ takstir dari isim mufrad قَاضٍ
Dan sebaliknya apabila ada jama’ takstir yang pada akhir isim mufradnya terdiri dari huruf ta’[ت], maka cara penulisan ta’ pada jama’ takstirnya harus di tulis ta’ maftuhah. Seperticontoh; بيوت - بيت
3. Ta’ marbuthah yang terleta’ pada dharaf lafadz ( ثمـّة) untuk membedakan antara lafadz (ثمـّـت) dalam huruf.
Contoh;( ثمـّة) ثمة كبير بين العلم والجاهل
(ثمـّـت)
Dan parlu kita ketahui bahwasanya apabila ada kalimat yang berakhiran dengan huruf ta’ marbuthah dan di masuki dhamir ghaib atau mukhathab, maka cara penulisan ta’ berubah menjadi ta’ maftuhah.
Contoh; شفـقة di masuki ha’ dhamir ghaib menjadiشفـقـته
نظرة di masuki dhamir kafun mukhathab menjadi ,نظرتك

C. Cara Penulisan Ta’ Marbuthah
1. Posisi lepas atau sendiri;
Contoh: ألقاعدة , مفردة , الهمزة
2. Posisi akhir;
Contoh: كتابة , ألقاعدة , مسلمة
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari paparan makalah diatas maka kami dapat memeberi kesimpulan bahwa ta’ itu terbagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Ta’ maftuhah
b. Ta’ marbuthah
2. Saran
















MAKALAH
QAWA’ID al– IMLA wa al- TARQIM
( Ta Maftuhah dan Ta’ Marbuthah )




Oleh :
1. Mohammad Zakki ( NIM : 1112021000072 )
2. Muhammad Abi Surya ( NIM : 1112021000088 )
3. Haryatih ( NIM : 1112021000069 )
4. Dea Sari ( NIM : 1112021000082 )
5. Dede ( NIM : 1112021000092 )
Dosen Pembimbing :
Minatur Rokhim, M.A
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
Universitas Islam Negeri
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Berbagai macam ilmu yang dipelajari untuk dapat memahami dan menggunakan bahasa arab dengan baik salah satunya selain mempelajari ilmu nahwu dan shorof kita juga harus mempelajari Qawa’id al-imla al-tarqim yaitu ilmu yang membahas didalamnya tentang bagaimana penulisan bahasa arab dengan baik, seperti peletakan hamzah, dan kapan saatnya kita memakai hamzah qotho dan hamzah washal,dan kapan saatnya juga kita memakai ta’ marbuthah dan ta’ maftuhah serta yang lainnya.
Pada pembahasan ta’ marbuthah dan ta’ maftuhah ini selain mengerti pengertian dari keduanya,di sisi lain bagaimana mengetahui letak-letak penempatan ta’maftuhah dan ta’marbuthah,cara penulisan ta’ maftuhah dan ta’ marbuthah.
Jarang sekali seseorang memperhatikan tata penulisan dalam bahasa arab yang benar mereka hanya melihat penulisan bahasa arab apa yang kebanyakan mereka lihat tanpa mengetahui alasan teori yang tepatnya mengapa di tulis seperti itu dan kapan memakai kaidah aturan tulisan seperti itu.Hal inilah yang harus di perhatikan dengan baik,agar kita dapat memahami dan menguasai benar bahasa arab.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas,dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
A. Mengetahui apa pengertian dari keduanya baik Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah.
B. Bagaimana mengetahui letak-letak penempatan Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah.
C. Bagaimana cara penulisan Ta’Marbuthah dan Ta’ Maftuhah
3. Tujuan dan Manfaat
c. Tujuan
Sesuai dengan permasalahan diatas,tujuanyang dicapai dalam penulisan makalah ini adalah :
3. Mendeskripsikan pengertian dari Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah
4. Mendeskripsikan letak – letak penempatan Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah
5. Mendeskripsikan cara penulisan Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah
d. Manfaat
Penulisan makalah ini memiliki manfaat sebagai berikut :
1. Penulisan makalah ini dapat digunakan sebagai pembelajaran mengenai Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah.
2. Memahami waktu pengggunaan Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah serta posisi penulisan Ta’ dari keduanya.


BAB III
PENUTUP
3. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penulisan makalah diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
A. Ta’ terbagi menjadi 2 jenis, yaitu Ta’ Marbuthah dan Ta’ Maftuhah Ta’ maftuhah yang apabila diwaqaf kan tetap di baca ta’ sedangkan Ta’ marbuthah apabila di waqaf kan di baca ha’.
B. Ta’ marbuthah dan Ta’ maftuhah dapat diketahui di berbagai macam tempat, seperti Ta’ yang terletak pada isim mufrod, jama taksir,masdar dan lain-lainnya.
C. Cara posisi penulisan Ta’ pada umumnya ada yang pada posisi sendiri atau terpisah, ada yang terletak di awal, di tengah, serta di akhir.
4. Saran
Saran yang dapat di sampaikan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:








DAFTAR ISI
KATA PENAGNTAR I
DAFTAR ISI II
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang 1
2. Rumusan Masalah 1
3. Manfaat dan Tujuan 1
BAB II PEMBAHSAN
A. Pembagian ta’ 2
1. Ta’ Maftuhah 2
2. Ta’ Marbuthah 5
B. Cara penulisan ta’ maftuhah 4
C. Cara penulisan ta’ marbuthah 6
BAB II PENUTUP
1. Kesimpulan 7
2. Saran 7





KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat taufik hidayah dan inayahnya kepada kita sehingga proses penyelesaian penulisan makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam disampaikan kepada nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat, tabiin dan para pengikut setianya hingga akhir zaman.
Akhirnya makalah qawaid al-amla’ dengan judul Pengertian ta’,dan pembagianya, ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu, terima kasih untuk rekan satu kelompok atas kerjasamanya dalam menyelesaikan penyusunan makalah ini. Dan sebagai penyusun berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam memahami apa itu Pengertian ta’, dan pembagian-pembagiannya.















makalah qawaid al imla

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tulisan yang baik dan benar itu sudah pasti berpengaruh dalam kehidupan atau kegiatan kita, apalagi ketika seorang Mahasiswa yang sedang menulis skripsi dia dituntut untuk menggunakan bahasa dan tulisan yang baik dan benar agar didalam tulisannya tersebut tidak terdapat bahasa yang ambigu. Begitu pula didalam mata kuliah yang kami pelajari yaitu imla’, kami sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab harus sangat memahami betul tentang bagaimana penulisan huruf alif, hamzah, mim, dan lain sebagainya. Itu semua agar kami benar – benar menguasai sehingga dapat menulis dan mengamalkan ilmu yang telah kami pelajari selama 4 tahun.
Didalam bahasa arab terdapat juga huruf hijaiyyah yang merupakan abjad didalam bahasa arab, salah satu hurufnya itu adalah huruf hamzah. Banyak sekali orang yang beranggapan bahwa hamzah dan alif itu sama, padahal sebenarnya hamzah dan alif itu memiliki perbedaan yang sangat signifikan baik dari segi bentuknya maupun dari segi penggunaannya. Hamzah ini sangat penting bagi mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab, karena dalam penulisan skripsi nanti sangat di pertimbangkan apakah peletakan hamzah yang kurang tepat, atau hamzah yang seharusnya tidak ada dalam kata tertentu.
Dan hamzah ini juga merupakan salah satu materi yang kami pelajari dan dalami, dan merupakan tugas yang diberikan oleh dosen kepada kami. Oleh karena itu kami membuat suatu makalah yang berjudul “HAMZAH”.






B. Pembatasan masalah
Adapun masalah tentang pembahasan hamzah ini sebenarnya sangat luas sekali, namun karena keterbatasan kami dalam mencari dan memahami referensi yang berkaitan dengan hamzah ini, kami hanya dapat membahas berdasarkan rumusan dibawah ini.
Adapun rumusan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian hamzah itu?
2. Berapa macam pembagian hamzah itu?
3. Bagaimana cara meletakkan hamzah dalam penulisan yang benar itu?

C. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan penulisan makalah “HAMZAH” ini adalah agar semua orang dapat mengetahui apa itu hamzah dan apa itu alif, dan supaya semua orang dapat membedakan antara hamzah dan alif yang sangat signifikan ini. Kemudian juga makalah ini bermaksud agar Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab mengetahui dan mempelajari begitu pentingnya materi yang kami tuang dalam makalah yang sangat ringkas ini dan masih banyak kekurangannya ini, didalam penulisan skripsi mereka nanti.
Selain dari maksud dan tujuan diatas juga yang merupakan bagian yang terpenting dalam penyusunan makalah ini adalah agar terselesaikannya tugas dari dosen mata kuliah imla’ ini kepada kami.
Semoga apa yang telah kami tulis dalam makalah yang begitu singkat ini dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagi kami khususnya dan bagi para pembaca sekalian umumnya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Hamzah (التعريف الهمزة)
الهمزةُ :هي التي تقبلُ الحركاتِ : فَإن رُسمت على ألفٍ ، سُميت
(الألف اليا بسة) أيضًا : كأعطى وسأل والنًّبأ . وتقابلها
الألفُ الليّنةُ، وهي التي لا تقبلُ الحركاتِ ، كألف
(قال ودعا ورمى).¹

Hamzah adalah yang menerima harakat, maka jika ditulis diatas alif, maka hamzah itu dinamakan (Alif yabisah) juga. Seperti , أعطى، سأل، النّبأ dan yang berhadapan terhadap hamzah itu adalah alif layyinah, dan alif layyinah tidak menerima harakat, seperti, قال, دعا,رمى .


B. Macam - macam Hamzah (أنواع الهمزة)
والهمزة تقع في أول الكلمة : كأعطى، وفي وسطها : كسأل، وفي
اخرها كالنبأ.²


1 Kitab Jami’ Ad – duruus Al ‘arabiyyah, hal :345 (Syekh Musthofa Al –Gholayani)
2 Kitab Jami’ Ad – duruus Al ‘arabiyyah, hal :345 (Syekh Musthofa Al –Gholayani)
Dan hamzah itu terletak di beberapa tempat, ada yang di awal kata seperti أعطى , dan ditengah tengah kata seperti سأل , dan diakhir kata seperti النّبأ

a) Hamzah diawal kata dibagi menjadi 6 macam
1. Hamzah Asli
Hamzah asli adalah hamzah yang ada didalam bentuk suatu kata.
Contoh : أخذ, أب, أم, أخت, إنّ الخ...
2. Hamzah mukhbiri ‘annafsihi
Hamzah mukhbiri ‘annafsihi adalah hamzah yang ada pada awal fi’il mudhori’ yang disandarkan kepada si pelaku pertama (المتكلم الواحد).
Contoh : أكتب, أقرأ, أُحسنُ الخ...
3. Hamzah istifham
Hamzah istifham adalah hamzah yang datang di awal kata, adanya hamzah itu untuk menanyakan kabar suatu perintah.
Contoh: أتكون من الفائزين ؟
4. Hamzah nida’
Hamzah nida’ adalah hamzah yang datang diawal kata, hamzah ini digunakan untuk panggilan dekat seperti : أعبد الله
5. Hamzah washal
6. Hamzah fashl (atau yang disebut hamzah qotho’ juga)




b) Hamzah ditengah kata (الهمزة المتوسطة)
الهمزة المتوسطة ، إما ان تكون متوسطة حقيقة ، كأن تكون
بين حرفين من بنية الكلمة ، مثل : (سأل وبئر ورؤف)3
Hamzah mutawasithoh adalah hamzah yang hakikat nya ada diantara dua huruf dari suatu kata.
Menurut kitab silsilatu ta’lim allughotil arabiyyah, hamzah mutawasithoh (ditengah kata) diantaranya sebagai berikut :

1. كتابة الهمزة المتو سطة على الألف
(hamzah mutawasithoh diatas alif)
القاعدة :
ترسم الهمزة المتوسطة على الألف في المواضع التالية :
۱. إذا كانت مفتوحة والحرف الذي قبلها مفتوح مثل (سأل).
۲. إذا كانت ساكنة والحرف الذي قبلها مفتوح مثل (رأس).
۳. إذا كانت مفتوحة والحرف الذي قبلها ساكن (ليس الياء)
مثل (مسألة).4

الأ مثلة :
۱. (( سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِع )).
۲. إِذا قَرَأْت فاقْرأ شيئًا مُفِيْدًا.

3 Kitab Jami’ Ad – duruus Al ‘arabiyyah, hal :350 (Syekh Musthofa Al –Gholayani)
4 Kitab Silsilatu Ta’lim Al – lughoti Al – arobiyyati, hal : 78 (DR. Abdullah Al hamid
۳. رأس االحكمخافة الله.
٤. نظر القاضي في المسألة.

2. كتابة الهمزة المتوسطة على النبرة (الياء)
(hamzah mutawasitthoh diatas nabrah atau ya’)

القاعد :
تكتب الهمزة في وسط الكلمة على النبرة (الياء) إذا كانت :
۱ . مكسوزة، مثل : (أَفْئِدَة).
۲ . مفتوحة أو مضمومة وقبلها حرف مكسور، مثل (الوِئَامُ) و(نَاشِئُوْنَ).
۳ . مفتوحة وقبلها ياء ساكنة، مثل : (هَيْئَةٌ).5

الأمثلة :
۱ . يَتَّجِهُ المُسلمون بِأَفْئِدَتِهِم إلى الكَعْبَةِ المُشَرَّفَةِ.
۲ . المُعَامَلَةُ الحَسَنَةُ تَجْعَلُ الوِئَامَ يَسُوْدُ بَيْنَ أَفْرَادِ اْلأُسْرَةِ.
۳ . هَيْئَةُ الأَمَمَ المُتَّحِدَةِ مِن أكبر الْهَيْئَاتِ الدَّوْلِيَّةِ.







5 Kitab Silsilatu Ta’lim Al – lughoti Al – arobiyyati, hal : 85 (DR. Abdullah Al hamid)
3. كتابة الهمزة المتوسطة على الواو
(hamzah mutawasitthoh diatas wawu)
القاعدة :
تكتب الهمزة المتوسطة على الواو في الحالات التالية :
۱ . إذا كانت مضمومة وما قبلها مفتوح، مثل : (أَقْرَؤُهُم)
۲ . إذا كانت مضمومة وما قبلها ساكن، مثل : (مَسْؤُوْلٌ)
۳ . إذا كانت ساكن وما قبلها مضموم، مثل : (الْمُؤْمِنِيْن)
٤ . إذا كانت مفتوحة وما قبلها مضموم، مثل : (فُؤَادُ)

الأمثلة :
۱ . يَؤُمُّ النّاسَ فِي الصَّلَاةِ أَقْرَؤُهُم لِكِتابِ الله.
۲ . (( قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِم ))
۳ . (( إنَّ السَّمْعُ وَالبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أولئك كان عنه إذا وقعت مسؤولا))

4. كتابة الهمزة المتوسطة مفردة
(hamzah mutawasittoh mufrodah)
القاعدة :
تكتب الهمزة المتوسطة مفردة على السطر في الحالات التاليه :
۱ . إذا وقعت مفتوحة بعد ألف، مثل : (يتساءلون).
۲ . إذا وقعت مفتوحة بعد واو ساكنة، مثل : (مروءة).
۳ . إذا جاءت بعدها ألف تنوين نصبا وليس قبلها ياء ساكنة،
مثل : (امرءا).

الأمثلة :
۱ .(( عمَّ يتساءلون عن النبأ العظيم )) .6
۲ . أحسن الناس خلقا أكثر هم مروءة .
۳ . رحم الله امرءا ءرف قدر نفسه .

c) Hamzah diakhir kata (الهمزة المتطرفة)
حكم الهمزة المتطرفة حكم الحرف الساكن ، لأنها في موضع
الوقف من الكلمة .7

Hamzah mutathorrifah adalah hamzah yang hukumnya seperti huruf mati, karena hamzah mutathorrifah itu diletakkan dalam waqaf kalimat tertentu.





6 Surat An – naba’, Ayat : 1
7 Kitab Jami’ Ad – duruus Al – arobiyyati, hal :349 (Syekh Musthofa Al – Gholayini)
في الهمزة التي في اخرالكلمة ، ولها أربع حالات :
ــ الحالة اللأولى : تكتب ألفًا
ــ الحالة الثانيا : تكتب واوًا
ــ الحالة الثالثة : تكتب ياءً
ــ الحالة الرابعة : لاتصور الهمزة بحرف 8

Hamzah pada akhir kalimat itu di bagi kedalam empat keadaan.yang lebih jelasnya sebagai berikut :
1. Ditulis diatas alif, yaitu jika ada sebelum hamzah itu huruf yang di fathahkan.
Contoh : قَرَأَ ، مَلْجَأَ ، صَدَأَ ، مُهَيَّأَ ، الخ.....
2. Ditulis diatas wawu, yaitu jika ada huruf sebelum hamzah itu huruf yang di dhamahkan.
Contoh : لُؤْلُؤٌ ، التَّوَا طُــؤُ ، التَّبــَا طُؤُ ، هَــزُؤَ ، الخ....
3. Ditulis diatas ya’, yaitu jika ada huruf sebelum hamzah itu huruf yang dikasrahkan.
Contoh : مُنْشِئ ، بَــرِئ ، مُبْتَـــدِئ ، قَارِئ ، لَمْ يَجِئْ ، الخ...
4. Tidak ditulis hamzah pada suatu huruf, yaitu tidak ditulis hamzah dari huruf – huruf yang tiga yaitu ( alif, wawu, dan ya’). Tetapi diletakkan ditempat tertentu. Dan terbagi atas dua tempat, yaitu :
• Apabila ada sebelum huruf hamzah itu huruf yang bersukun mutlak, dan huruf – huruf I’lat.
Contoh : جُزْءٌ ، جَزَاءٌ ، يَسُوْءٌ ، بُطْءٌ ، مِلْءٌ ، صفــاءٌ

8 Kitab Qowa’id Al Imla’Ilm Rsm, hal : 11 (Al Ustadz Idma Rizis)
• Apabila ada sebelum huruf hamzah itu wawu yang bertasydid yang di dhamahkan.
Contoh : التّبَوُّء



























BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian – uraian maupun penjelasan – penjelasan tersebut, bahwa hamzah adalah yang menerima alif, apabila hamzah ditulis diatas alif, maka hamzah tersebut juga bisa disebut alif yabisah, berbeda dengan alif layyinah, alif layyinah itu adalah yang tidak menerima harakat dia biasanya berada pada tubuh atau isi suatu kata dan bukan di awal kata.
Hamzah juga terbagi kedalam beberapa tempat, ada hamzah yang terletak diawal kata yang dibagi lagi kedalam enam bagian yaitu hamzah asli, hamzah mukhbiri ‘an nafsihi, hamzah istifham, hamzah nida’, hamzah washal dan hamzah fashl (qotho’). Kemudian hamzah ditengah kata atau yang disebut hamzah Mutawasitthoh, dan terakhir itu hamzah yang berada diakhir kata yang disebut hamzah mutathorrifah. .
Kemudian hamzah juga dapat diletakkan di beberapa tempat, seperti pada huruf alif, pada huruf ya’, pada huruf wawu, dan ada juga yang ditulis sendiri tanpa bersandar pada huruf apapun seperti تَسَاءَلُوْنَ .

B. Saran
Berdasarkan pada materi dan referensi yang kami dapat ternyata hamzah itu mempunyai beda yang sangat signifikan dengan alif. Dan begitu banyak cara peletakkan hamzah dalam penulisan yang benar, oleh karena itu kami harap dengan adanya makalah tentang hamzah ini, bisa menambah ilmu para pembaca umumnya dan kami khususnya. Dan bisa menambah khazanah bagi para pembaca paling tidak mengetahui bahwa hamzah ini berbeda dengan alif.
Kami sangat berterima kasih apabila makalah ini sangat berguna dan bermanfaat bagi para pembaca dan kami juga minta maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kata – kata yang kurang tepat.

definisi hamzah

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Hamzah (التعريف الهمزة)
الهمزةُ :هي التي تقبلُ الحركاتِ : فَإن رُسمت على ألفٍ ، سُميت
(الألف اليا بسة) أيضًا : كأعطى وسأل والنًّبأ . وتقابلها
الألفُ الليّنةُ، وهي التي لا تقبلُ الحركاتِ ، كألف
(قال ودعا ورمى).¹

Hamzah adalah yang menerima harakat, maka jika ditulis diatas alif, maka hamzah itu dinamakan (Alif yabisah) juga. Seperti , أعطى، سأل، النّبأ dan yang berhadapan terhadap hamzah itu adalah alif layyinah, dan alif layyinah tidak menerima harakat, seperti, قال, دعا,رمى .


B. Macam - macam Hamzah (أنواع الهمزة)
والهمزة تقع في أول الكلمة : كأعطى، وفي وسطها : كسأل، وفي
اخرها كالنبأ.²


1 Kitab Jami’ Ad – duruus Al ‘arabiyyah, hal :345 (Syekh Musthofa Al –Gholayani)
2 Kitab Jami’ Ad – duruus Al ‘arabiyyah, hal :345 (Syekh Musthofa Al –Gholayani)
Dan hamzah itu terletak di beberapa tempat, ada yang di awal kata seperti أعطى , dan ditengah tengah kata seperti سأل , dan diakhir kata seperti النّبأ

a) Hamzah diawal kata dibagi menjadi 6 macam
1. Hamzah Asli
Hamzah asli adalah hamzah yang ada didalam bentuk suatu kata.
Contoh : أخذ, أب, أم, أخت, إنّ الخ...
2. Hamzah mukhbiri ‘annafsihi
Hamzah mukhbiri ‘annafsihi adalah hamzah yang ada pada awal fi’il mudhori’ yang disandarkan kepada si pelaku pertama (المتكلم الواحد).
Contoh : أكتب, أقرأ, أُحسنُ الخ...
3. Hamzah istifham
Hamzah istifham adalah hamzah yang datang di awal kata, adanya hamzah itu untuk menanyakan kabar suatu perintah.
Contoh: أتكون من الفائزين ؟
4. Hamzah nida’
Hamzah nida’ adalah hamzah yang datang diawal kata, hamzah ini digunakan untuk panggilan dekat seperti : أعبد الله
5. Hamzah washal
6. Hamzah fashl (atau yang disebut hamzah qotho’ juga)




b) Hamzah ditengah kata (الهمزة المتوسطة)
الهمزة المتوسطة ، إما ان تكون متوسطة حقيقة ، كأن تكون
بين حرفين من بنية الكلمة ، مثل : (سأل وبئر ورؤف)3
Hamzah mutawasithoh adalah hamzah yang hakikat nya ada diantara dua huruf dari suatu kata.
Menurut kitab silsilatu ta’lim allughotil arabiyyah, hamzah mutawasithoh (ditengah kata) diantaranya sebagai berikut :

1. كتابة الهمزة المتو سطة على الألف
(hamzah mutawasithoh diatas alif)
القاعدة :
ترسم الهمزة المتوسطة على الألف في المواضع التالية :
۱. إذا كانت مفتوحة والحرف الذي قبلها مفتوح مثل (سأل).
۲. إذا كانت ساكنة والحرف الذي قبلها مفتوح مثل (رأس).
۳. إذا كانت مفتوحة والحرف الذي قبلها ساكن (ليس الياء)
مثل (مسألة).4

الأ مثلة :
۱. (( سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِع )).
۲. إِذا قَرَأْت فاقْرأ شيئًا مُفِيْدًا.

3 Kitab Jami’ Ad – duruus Al ‘arabiyyah, hal :350 (Syekh Musthofa Al –Gholayani)
4 Kitab Silsilatu Ta’lim Al – lughoti Al – arobiyyati, hal : 78 (DR. Abdullah Al hamid
۳. رأس االحكمخافة الله.
٤. نظر القاضي في المسألة.

2. كتابة الهمزة المتوسطة على النبرة (الياء)
(hamzah mutawasitthoh diatas nabrah atau ya’)

القاعد :
تكتب الهمزة في وسط الكلمة على النبرة (الياء) إذا كانت :
۱ . مكسوزة، مثل : (أَفْئِدَة).
۲ . مفتوحة أو مضمومة وقبلها حرف مكسور، مثل (الوِئَامُ) و(نَاشِئُوْنَ).
۳ . مفتوحة وقبلها ياء ساكنة، مثل : (هَيْئَةٌ).5

الأمثلة :
۱ . يَتَّجِهُ المُسلمون بِأَفْئِدَتِهِم إلى الكَعْبَةِ المُشَرَّفَةِ.
۲ . المُعَامَلَةُ الحَسَنَةُ تَجْعَلُ الوِئَامَ يَسُوْدُ بَيْنَ أَفْرَادِ اْلأُسْرَةِ.
۳ . هَيْئَةُ الأَمَمَ المُتَّحِدَةِ مِن أكبر الْهَيْئَاتِ الدَّوْلِيَّةِ.







5 Kitab Silsilatu Ta’lim Al – lughoti Al – arobiyyati, hal : 85 (DR. Abdullah Al hamid)
3. كتابة الهمزة المتوسطة على الواو
(hamzah mutawasitthoh diatas wawu)
القاعدة :
تكتب الهمزة المتوسطة على الواو في الحالات التالية :
۱ . إذا كانت مضمومة وما قبلها مفتوح، مثل : (أَقْرَؤُهُم)
۲ . إذا كانت مضمومة وما قبلها ساكن، مثل : (مَسْؤُوْلٌ)
۳ . إذا كانت ساكن وما قبلها مضموم، مثل : (الْمُؤْمِنِيْن)
٤ . إذا كانت مفتوحة وما قبلها مضموم، مثل : (فُؤَادُ)

الأمثلة :
۱ . يَؤُمُّ النّاسَ فِي الصَّلَاةِ أَقْرَؤُهُم لِكِتابِ الله.
۲ . (( قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِم ))
۳ . (( إنَّ السَّمْعُ وَالبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أولئك كان عنه إذا وقعت مسؤولا))

4. كتابة الهمزة المتوسطة مفردة
(hamzah mutawasittoh mufrodah)
القاعدة :
تكتب الهمزة المتوسطة مفردة على السطر في الحالات التاليه :
۱ . إذا وقعت مفتوحة بعد ألف، مثل : (يتساءلون).
۲ . إذا وقعت مفتوحة بعد واو ساكنة، مثل : (مروءة).
۳ . إذا جاءت بعدها ألف تنوين نصبا وليس قبلها ياء ساكنة،
مثل : (امرءا).

الأمثلة :
۱ .(( عمَّ يتساءلون عن النبأ العظيم )) .6
۲ . أحسن الناس خلقا أكثر هم مروءة .
۳ . رحم الله امرءا ءرف قدر نفسه .

c) Hamzah diakhir kata (الهمزة المتطرفة)
حكم الهمزة المتطرفة حكم الحرف الساكن ، لأنها في موضع
الوقف من الكلمة .7

Hamzah mutathorrifah adalah hamzah yang hukumnya seperti huruf mati, karena hamzah mutathorrifah itu diletakkan dalam waqaf kalimat tertentu.





6 Surat An – naba’, Ayat : 1
7 Kitab Jami’ Ad – duruus Al – arobiyyati, hal :349 (Syekh Musthofa Al – Gholayini)
في الهمزة التي في اخرالكلمة ، ولها أربع حالات :
ــ الحالة اللأولى : تكتب ألفًا
ــ الحالة الثانيا : تكتب واوًا
ــ الحالة الثالثة : تكتب ياءً
ــ الحالة الرابعة : لاتصور الهمزة بحرف 8

Hamzah pada akhir kalimat itu di bagi kedalam empat keadaan.yang lebih jelasnya sebagai berikut :
1. Ditulis diatas alif, yaitu jika ada sebelum hamzah itu huruf yang di fathahkan.
Contoh : قَرَأَ ، مَلْجَأَ ، صَدَأَ ، مُهَيَّأَ ، الخ.....
2. Ditulis diatas wawu, yaitu jika ada huruf sebelum hamzah itu huruf yang di dhamahkan.
Contoh : لُؤْلُؤٌ ، التَّوَا طُــؤُ ، التَّبــَا طُؤُ ، هَــزُؤَ ، الخ....
3. Ditulis diatas ya’, yaitu jika ada huruf sebelum hamzah itu huruf yang dikasrahkan.
Contoh : مُنْشِئ ، بَــرِئ ، مُبْتَـــدِئ ، قَارِئ ، لَمْ يَجِئْ ، الخ...
4. Tidak ditulis hamzah pada suatu huruf, yaitu tidak ditulis hamzah dari huruf – huruf yang tiga yaitu ( alif, wawu, dan ya’). Tetapi diletakkan ditempat tertentu. Dan terbagi atas dua tempat, yaitu :
• Apabila ada sebelum huruf hamzah itu huruf yang bersukun mutlak, dan huruf – huruf I’lat.
Contoh : جُزْءٌ ، جَزَاءٌ ، يَسُوْءٌ ، بُطْءٌ ، مِلْءٌ ، صفــاءٌ

8 Kitab Qowa’id Al Imla’Ilm Rsm, hal : 11 (Al Ustadz Idma Rizis)
• Apabila ada sebelum huruf hamzah itu wawu yang bertasydid yang di dhamahkan.
Contoh : التّبَوُّء



























BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian – uraian maupun penjelasan – penjelasan tersebut, bahwa hamzah adalah yang menerima alif, apabila hamzah ditulis diatas alif, maka hamzah tersebut juga bisa disebut alif yabisah, berbeda dengan alif layyinah, alif layyinah itu adalah yang tidak menerima harakat dia biasanya berada pada tubuh atau isi suatu kata dan bukan di awal kata.
Hamzah juga terbagi kedalam beberapa tempat, ada hamzah yang terletak diawal kata yang dibagi lagi kedalam enam bagian yaitu hamzah asli, hamzah mukhbiri ‘an nafsihi, hamzah istifham, hamzah nida’, hamzah washal dan hamzah fashl (qotho’). Kemudian hamzah ditengah kata atau yang disebut hamzah Mutawasitthoh, dan terakhir itu hamzah yang berada diakhir kata yang disebut hamzah mutathorrifah. .
Kemudian hamzah juga dapat diletakkan di beberapa tempat, seperti pada huruf alif, pada huruf ya’, pada huruf wawu, dan ada juga yang ditulis sendiri tanpa bersandar pada huruf apapun seperti تَسَاءَلُوْنَ .

B. Saran
Berdasarkan pada materi dan referensi yang kami dapat ternyata hamzah itu mempunyai beda yang sangat signifikan dengan alif. Dan begitu banyak cara peletakkan hamzah dalam penulisan yang benar, oleh karena itu kami harap dengan adanya makalah tentang hamzah ini, bisa menambah ilmu para pembaca umumnya dan kami khususnya. Dan bisa menambah khazanah bagi para pembaca paling tidak mengetahui bahwaa hamzah ini berbeda dengan alif.
Kami sangat berterima kasih apabila makalah ini sangat berguna dan bermanfaat bagi para pembaca dan kami juga minta maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kata – kata yang kurang tepat.
Daftar Pustaka,


 Syekh Musthofa Al – Gholayini, Jami’ Ad – duruus Al – arobiyyah, 1303-1364 H: Maktabah Asy – Syuruq Ad – dauliyyah.
 Al – hamid, Abdullah, Silsilatu Ta’lim Al – lughoti Al – arobiyyah, 1413 H: Atthib A’tul Uulaa.
 Rizis, Idma, Qawaid Al Imla’ Ilm Rsm, 1998 M: Gontor

isim mustaq dan jamid

ILMU AS-SARF
ISIM JAMID DAN ISIM MUSYTAq

PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Dalam pelajaran ilmu al- sarf terdapat pembahasan tentang isim jamid dan isim musytaq di lihat dari segi susunannya.
isim jamid adalah isim yang tidak dapat di tasrif, isim jamid juga terbagi menjadi dua bagian,yaitu :
1.isim dzat
2.isim jenis
Sedangkan isim musytaq adalah isim yang dapat di tasrif.adapun isim musytaq terbagi atas 7 (tujuh) bagian :
1.isim maf’ul
2.isim fa’il
3.sifat al-musyabah isim fa’il
4.Isim tafdil
5.isim zaman
6.isim makan
7.isim alat.
Oleh sebab pemakalah akan membahas materi tersebut, tentang isim jamid dan isim musytaq.
2.Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut,pemakalah akan merumuskan masalah sebagai berikut :
1.apa pengertian isim jamid dan isim musytaq ?
2.apa saja pembagian isim jamid
3.apa saja pembagian isim musytaq
3.Tujuan Pembahasan.
Adapun tujuan pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.Untuk mengetahui pengertian isim jamid dan isim musytaq.
2.Untuk mengetahui pembagian isim jamid
3.Untuk mengetahui pembagian isim musytaq













بسم الله الرحمن الرحيم
1.pengertian sim jamid dan isim musytaq.
فالإسم الجامد ما لا يكون مأخوذا من الفعل.
Isim jamid adalah isim yang tidak dapat di ambil dari fi’il halnya tidak dapat di tasrif.
الإسم الجامد هو ما لم يؤخذ من غيره
Isim jamid adalah isim yangtidak dapat di ambil dari selainnya.
Sedangkan pengertian isim musytaq adalah :
والاسم المشتق ما كان مأخوذا من الفعل
Isim musytaq adalah isim yang dapat di ambil dari fi’il,hal nya dapat di tasrif.
الإسم المشتق ما أخذ من غيره ود لّ على شىء موصوف بصفة
Isim musytaq adalah isim yang di ambil dari kalimat lain dan mengandung suatu sifat.
2.pembagian isim jamid dan isim musytaq.
Isim jamid terbagi atas 2 (dua) bagian yaitu:
1.isim dzat atau isim jinis .
2.isim ma’na atau isim masdar.

Pengertian isim dzat yaitu :
الإسم الذات هو ما لا يؤخذ من لفظه فعل بمعناه

Isim dzat adalah isim yang tidak dapat di ambil dari lafadznya dengan ma’nanya.
Contoh : رجل,,صحرة ,ملائكة
Sedangkan isim ma’na adalah
المصدر ( أو إسم المعنى ) هو ما د ل على معنى مجرد من الزمان
Isim ma’na adalah isim yang menunujukkanatas ma’na yang sepi dari pertambahan dari waktu.5 atau isim yang menunjukkan arti sesuatu yang tidak fisik.
Contoh إكراما- اجتماع - -عدل-
isim musytaq terbagi atas 7 bagian :
1.isim fa’il dan shigot mubhalaghah, adalah isim yang di rofa’kan yang di sebutkan isimnya setelah fi’il. contoh ضارب
sighat mubhalaghah, yaitu isim yang menunjukkan arti isim fa’il yang mengandung arti penguatan atau menyangatkan (sangat).Wazan-wazan sighat mubalaghah antara lain
 فَعَّالٌ contoh عَلاَّمٌ artinya sangat panda

 فَعُوْلٌ contoh صَبُوْرٌ artinya sangat sabar
 فَعِيْل contoh سَمِيْعٌ artinya sangat mendengar
 فَعُوْلٌ contoh غفور artinya sangat mengampuni
2.isim maf’ul,adalah isim yang menunjukan arti suatu yang di kerjakan atau orang yang di kenai pekerjaan. contoh : مفتوح
3.sifat musyabahat, adalah isim musytaq yang menunjukkan tentang sifat yang selalu melekat pada yang di sifati.contoh: شجاع
4.isim tafdil isim yang terbentuk dari wazan yang memiliki arti lebih dari yang lain contoh:أكرم
5.isim zaman,adalah isim musytaq yang menunjukkan arti waktu terjadinya pekerjaan. contoh: منصر
6.isim makan,adalah isim musytaq yang menunjukkan arti tempat terjadinya sesuatu. contoh: محسب
7.isim alat,isim yang menunjukkan kata benda. contoh: مفتاح




Kesimpulan
Dari keterangan diatas, dapat kami simpulkan sebagai berikut:
Isim jamid dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Isim jamid dzat
2. Isim jamid ma’na (mashdar ghiru mim)
Isim musytaq ada tujuh, yaitu:
1. Isim fa’il
2. Isim maf’ul
3. Shighot mubalagh
4. Sifat musyabihat
5. Isim tafdhil
6. Isim zaman dan Isim makan
7. Isim ‘alat

Penutup
Demikianlah yang dapat kami sajikan. Kami menyadari bahwa makalah kami jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita. Amiin














DAFTAR PUSTAKA
Al-fakhrowi,syarah mukhtasar jiddan.Indonesia.T.th,cet.ke-1
Al-ghilayaini,syeh musthasfa.jami’ ad-durus al-arabiyyah.Bayrut: Al-Asriyyah.1974,cet.ke-2
Nikmah,Fu’ad.Qawaid as-sarf. Bayrut: Dar Al-Tsaqafah Al-islamiyah. T.th, cet.ke-1.


budaya kekerasaan

BUDAYA KEKERASAN
1.Definisi
Kekerasan (violence, bahasa Inggris) berasal dari kata latin violentus , berasal dari kata vi atau vis yang berarti kekuasaan atau berkuasa. Kekerasan merupakan cerminan dari tindakan agresi atau penyerangan kepada kebebasan atau martabat seseorang oleh perorangan atau sekelompok orang. Kekerasan dapat juga diartikan sebagai tindakan yang sewenang-wenang dan menyalahgunakan kewenangan secara tidak absah.
Kekerasan adalah tingkah laku agresif yang dipelajari secara langsung, yang sadar atau tidak sadar telah hadir dalam pola relasi sosial seperti keluarga sebagai unit paling kecil hingga kelompok-kelompok sosial yang lebih kompleks. Kekerasan terjadi dalam berbagai bidang kehidupan sosial, politik ekonomi dan budaya.
Bentuk kekerasan banyak ragamnya, meliputi kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan psikologis, kekerasan ekonomi, kekerasan simbolik dan penelantaran. Kekerasan dapat dilakukan oleh perseorangan maupun secara berkelompok, secara serampangan [dalam kondisi terdesak] atau teroganisir.
2.Kekerasan dan perilaku menyimpang
Kekerasan juga diidentikkan dengan perilaku menyimpang. Tuti Budirahayu (2004) dalam buku “Sosiologi” menjelaskan, perilaku menyimpang merupakan perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan atau norma sosial yang berlaku (nonconform), tindakan anti sosial (melawan kebiasaan masyarakat atau kepentingan umum dan tindakan kriminal (pelanggaran aturan hukum, mengancam jiwa dan keselamatan orang lain).
Penentuan siapa yang bisa disebut memiliki perilaku menyimpang sangat relatif karena norma-norma yang mengatur perilaku juga bervariasi. Perilaku ini dapat dikenali dari reaksi orang lain (masyarakat) jika norma telah ditetapkan dan penyimpangan telah diidentifikasi.
Seseorang menjadi penyimpang karena proses interaksi dan intepretasi tentang kesempatan bertindak menyimpang, pengendalian diri yang lemah dan kontrol masyarakat yang longgar (permisif). Perilaku menyimpangan yang dilakukan kelompok disebut dengan subkultur menyimpang. Subkultur menyimpang memiliki norma, nilai, kepercayaan,kebiasaan atau gaya hidup yang berbeda dari kultur dominan. Subkultur misalnya, komunitas biker, rider, kelompok drugusers, kelompok homoseksual, kelompok punk, dan sebagainya.




3.Teori Yang Berkaitan Dengan Perilaku Menyimpang :
a. Teori Anomie
Pandangan ini dikemukakan oleh Robert Merton yang menyatakan, perilaku menyimpang terjadi akibat adanya berbagai ketegangan dalam struktur sosial sehingga ada individu-individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi penyimpang.
b. Teori Belajar ( Teori Sosialisasi)
Edwin H.Sutherland menyatakan teorinya asosiasi diferensial yaitu penyimpangan itu adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari subkultur atau teman-teman sebaya yang menyimpang.
c.Teori Labeling (teori pemberian cap atau teori reaksi masyarakat)
Becker menyatakan teori bahwa penyimpangan merupakan suatu konsekuensi dari penerapan aturan-aturan dan sanksi oleh orang lain kepada seorang pelanggar. Misalnya Seseorang yang terlanjur dilabelkan atau dicap negatif sebagai pemabuk maka orang itu justru minum sebanyak-banyaknya untuk mengatasi penolakan masyarakat terhadap dirinya.
d. Teori Kontrol
Teori ini muncul karena adanya pandangan yang mengasumsikan bahwa setiap orang cenderung tidak patuh pada hukum atau untuk memiliki dorongan pelanggaran pada hukum. Hirshi menyatakan empat unsur pengikat sosial (sosial bond) yang berfungsi sebagai pengendali perilaku individu yaitu : attachment (kasih sayang), commitmen (tanggung jawab), involvement (keterlibatan), believe (kepercayaan, kepatuhan, kesetiaan).
e. Teori Konflik
Teori ini menyatakan bahwa kelompok elite dengan kekuasaannya menciptakan peraturan, khususnya hukum, untuk melindungi dan memenangkan kepentingan mereka. Persaingan kepentingan mengakibatkan terjadinya konflik antara kelompoks atu dan kelompok lainnya. (menurut : Quinney, Clinnard dan Meier).
4.Apakah kekerasan itu budaya..........?
Ya. Kekerasan itu budaya, jika dilihat dari pengertian budaya sebagai sebuah cara hidup menurut Raymond Williams (pemikir kajian budaya/cultural studies dari Inggris). Budaya menurut Kephart meliputi adat istiadat / kebiasaan, nilai-nilai, pemahaman yang sama yang menyatukan sebagai masyarakat.
Jelas, pada banyak sisi kehidupan kekerasan itu menjadi budaya. Tafsir terhadap kekerasan itu sangat subyektif, bersifat kultural dan tergantung pada keyakinan, pandangan, nilai atau norma yang diyakini kelompok-kelompok masyarakat.
Motivasi kekerasan ditujukan untuk : bertahan hidup (survival), memenuhi kebutuhan atas hasrat [libido] kekerasan, melanggengkan kekuasaan, mempertahankan diskriminasi dan stratifikasi sosial.
Sebagai cara hidup, budaya kekerasan itu: dipelajari, diadopsi, dibiakkan, dikonsumsi dipertunjukkan, didistribusikan atau bahkan dijadikan komoditas fetishme [pemuas birahi kekerasan, seperti penjualan alat-alat kekerasan seksual bagi para sadomasokis].
5.apakah budaya kekerasan itu..........?
Budaya Kekerasan terjadi, ketika kekerasan (violence), ketakutan (horror) dan teror berkonspirasi membentuk perilaku yang menyimpang dan menjadi praksis kehidupan masyarakat. Kekerasan dianggap hal yang biasa karena menjadi komsumsi pikiran dan termanifestasi dalam tindakan sehari-hari.
Media massa memberikan kontribusinya yang sangat besar dalam mendistribusi kekerasan. Rumah-rumah produksi berlomba-lomba menyajikan tayangan sinetron, reality show yang sarat dengan caci maki, intrik jahat, kisah yang menampilkan darah dan airmata, penindasan dan berbagai kekerasan lainnya.
6.Faktor Penyebab Tawuran
Baru-baru ini kita mulai dipanaskan kembali dengan budaya tawuran di antara para pelajar. Sampai-sampai terjadi korban jiwa. Dan sungguh sadis, tawuran kali ini bukan hanya dengan main tangan, tetapi lebih dari itu menggunakan senjata tajam.
Sebenarnya ada beberapa faktor yang kami amati sebagai penyebab tawuran, yaitu kami bagi menjadi faktor internal maupun eksternal.
a.Faktor Internal
 Kurangnya didikan agama
Faktor internal yang paling besar adalah kurangnya didikan agama. Jika pendidikan agama yang diberikan mulai dari rumah sudahlah bagus atau jadi perhatian, tentu anak akan memiliki akhlak yang mulia. Dengan akhlak mulia inilah yang dapat memperbaiki perilaku anak. Ketika ia sudah merasa bahwa Allah selalu mengamatinya setiap saat dan di mana pun itu, pasti ia mendapatkan petunjuk untuk berbuat baik dan bersikap lemah lembut. Inilah keutamaan pendidikan agama
 Pengaruh teman
Biasanya karena pengaruh teman, takut dibilang “cupu loe ga mau ikut tauran, punya nyali ga loe..??” atau “ini kan buat kebaikan sekolah kita, klo loe ga ikut mending ga usah jadi temen gue”. Kalau anak sudah memiliki agama yang bagus ditambah ia tahu bagaimana pergaulan yang buruk mesti dijauhi, ditambah dengan ia tidak mau perhatikan ucapan kawannya atau kakak angkatannya “cupu” atau “culun”. Tentu ia tidak mau terlibat dalam tawuran

b.Faktor Eksternal
Selain faktor internal faktor eksternal secara tidak langsung mendorong para pelajar pelajar untuk melakukan aksi tawuran. Di antara faktor tersebut:
• Kurangnya perhatian orang tua.
Saat ini pendidikan anak sudah diserahkan penuh pada sekolah. Orang tua (ayah dan ibu) hanya sibuk untuk cari nafkah mulai selepas fajar hingga matahari tenggelam. Sehingga kesempatan bertemu dan memperhatikan anak amat sedikit. Jadinya, tempat curhat dan cari perhatian si anak adalah pada teman-temannya. Kalau yang didapat lingkungan yang jelek, akibatnya ia pun akan ikut rusak dan brutal. Beda halnya jika ibunya berdiam di rumah. Tentu dia akan lebih memperhatikan si anak.
• Faktor ekonomi
Ekonomi, biasanya para pelaku tawuran adalah golongan pelajar menengah kebawah ini disebabkan faktor ekonomi mereka yang pas-pasan bahkan cenderung kurang membuat membuat mereka melampiaskan segala ketidakberdayaannya lewat aksi perkelahian tersebut, karena diantara mereka merasa dianggap rendah ekonominya dan akhirnya ikut tawuran agar dapat dianggap jagoan.




























BAB III
a. Kesimpulan
budaya kekerasan
Kekerasan (violence, bahasa Inggris) berasal dari kata latin violentus , berasal dari kata vi atau vis yang berarti kekuasaan atau berkuasaKekerasan adalah tingkah laku agresif yang dipelajari secara langsung, yang sadar atau tidak sadar telah hadir dalam pola relasi sosial seperti keluarga sebagai unit paling kecil hingga kelompok-kelompok sosial yang lebih kompleks. Kekerasan terjadi dalam berbagai bidang kehidupan sosial, politik ekonomi dan budaya.
Kekerasan dan perilaku menyimpang
 Teori yang berkaitan dengan perilaku menyimpang
o Teori Anomie
o Teori Sosialisas
o Teori Labeling
o Teori Kontrol
o Teori Konflik
Faktor Penyebab Tawuran
a.Faktor Internal
 Kurangnya didikan agama
 Pengaruh teman
b.Faktor Eksternal
 Kurangnya perhatian orang tua.
 Faktor ekonomi








Daftar Pustaka
Adlin, Alfatri. 2006.Spiritualitas dan Realita Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra
Black, Donald.1976. The Behavior of Law. London : Academic Press
Budirahayu, Tuti.2004. Perilaku Menyimpang. Jakarta: Prenada Media
Chaney, David.1996. Lifestyles. Yogyakarta: Jalasutra
Salam, Burhanuddin.1997. Etika Sosial—Asas Moral Dalam Kehidupan Manusia.Jakarta: Rineka Cipta
www.remajaislam.com



macam-macam majaz


Majas terdiri atas:
1). Majas Perbandingan;
2). Majas Pertentangan;
3). Majas Sindiran;
4). Majas Penegasan.

A. Majas Perbandingan
Majas Perbandingan ialah kata-kata berkias yang menyatakan perbandingan untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap pendengar atau pembaca”. Ditinjau dari cara pengambilan perbandingannya, Majas Perbandingan dibagi menjadi:

1) Asosiasi atau Perumpamaan
Majas asosiasi atau perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama, seperti, dan laksana.
Contoh :
a) Semangatnya keras bagaikan baja.
b) Mukanya pucat bagai mayat.
c) Wajahnya kuning bersinar bagai bulan purnama

2) Metafora
Metafora adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara langsung berupa perbandingan analogis.
Me•ta•fo•ra /métafora/ : Pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan, misalnya tulang punggung dalam kalimat pemuda adalah tulang punggung negara
Contoh:
a) Engkau belahan jantung hatiku sayangku. (sangat penting)
b) Raja siang keluar dari ufuk timur
c) Jonathan adalah bintang kelas dunia.
d) Harta karunku (sangat berharga)
e) Dia dianggap anak emas majikannya.
f) Perpustakaan adalah gudang ilmu.

3) Personifikasi
Personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia.
Contoh:
a) Badai mengamuk dan merobohkan rumah penduduk.
b) Ombak berkejar-kejaran ke tepi pantai.
c) Peluit wasit menjerit panjang menandai akhir dari pertandingan tersebut.

4) Alegori
Alegori adalah Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
Alegori: majas perbandingan yang bertautan satu dan yang lainnya dalam kesatuan yang utuh. Contoh: Suami sebagai nahkoda, Istri sebagai juru mudi
Alegori biasanya berbentuk cerita yang penuh dengan simbol-simbol bermuatan moral.
Contoh:
Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.

5) Simbolik
Simbolik adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan
mempergunakan benda, binatang, atau tumbuhan sebagai simbol atau lambang.
Contoh:
a) Ia terkenal sebagai buaya darat.
b) Rumah itu hangus dilalap si jago merah.
c) Bunglon, lambang orang yang tak berpendirian
d) Melati, lambang kesucian
e) Teratai, lambang pengabdian

6) Metonimia
Metonimia adalah majas yang menggunakan ciri atau lebel dari sebuah benda untuk menggantikan benda tersebut.Pengungkapan tersebut berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
Contoh:
a) Di kantongnya selalu terselib gudang garam. (maksudnya rokok gudang garam)
b) Setiap pagi Ayah selalu menghirup kapal api. (maksudnya kopi kapal api)
c) Ayah pulang dari luar negeri naik garuda (maksudnya pesawat)

7) Sinekdok
Sinekdok adalah majas yang menyebutkan bagian untuk menggantikan benda secara keseluruhan atau sebaliknya. Majas sinekdokhe terdiri atas dua bentuk berikut.
a) Pars pro toto, yaitu menyebutkan sebagian untuk keseluruhan.
Contoh:
(a) Hingga detik ini ia belum kelihatan batang hidungnya.
(b) Per kepala mendapat Rp. 300.000.
b) Totem pro parte, yaitu menyebutkan keseluruhan untuk sebagian.
Contoh:
(a) Dalam pertandingan final bulu tangkis Rt.03 melawan Rt. 07.
(b) Indonesia akan memilih idolanya malam nanti.

8. Simile:
Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai".
Contoh:
Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta berkorban apa saja.

B. Majas Pertentangan
Majas Pertentangan adalah “Kata-kata berkias yang menyatakan pertentangan dengan yang dimaksudkan sebenarnya oleh pembicara atau penulis dengan maksud untuk memperhebat atau meningkatkan kesan dan pengaruhnya kepada pembaca atau pendengar”. Jenis-jenis Majas Pertentangan dibedakan menjadi berikut.

1) Antitesis
Antitesis adalah majas yang mempergunakan pasangan kata yang berlawanan artinya.
Contoh:
a) Tua muda, besar kecil, ikut meramaikan festival itu.
b) Miskin kaya, cantik buruk sama saja di mata Tuhan.

2) Paradoks
Paradoks adalah majas yang mengandung pertentangan antara pernyataan dan fakta yang ada.
Contoh;
a) Aku merasa sendirian di tengah kota Jakarta yang ramai ini.
b) Hatiku merintih di tengah hingar bingar pesta yang sedang berlangsung ini.

3) Hiperbola
Majas hiperbola adalah majas yang berupa pernyataan berlebihan dari kenyataannya dengan maksud memberikan kesan mendalam atau meminta perhatian.
Contoh:
a) Suaranya menggelegar membelah angkasa.
b) Tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang.

4) Litotes
Litotes adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan cara yang berlawanan dari kenyataannya dengan mengecilkan atau menguranginya. Tujuannya untuk merendahkan diri.
Contoh:
a) Makanlah seadanya hanya dengan nasi dan air putih saja.
b) Mengapa kamu bertanya pada orang yang bodoh seperti saya
ini?

C. Majas Sindiran
Majas Perbandingan ialah kata-kata berkias yang menyatakan sindiran untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap pendengar atau pembaca”. Majas sindirian dibagi menjadi:

1) Ironi
Ironi adalah majas yang menyatakan hal yang bertentangan denganmaksud menyindir.
Contoh:
a) Ini baru siswa teladan, setiap hari pulang malam.
b) Bagus sekali tulisanmu sampai tidak dapat dibaca.

2) Sinisme
Sinisme adalah majas yang menyatakan sindiran secara langsung.
Contoh :
a) Perkataanmu tadi sangat menyebalkan, tidak pantas diucapkan oleh orang terpelajar sepertimu.
b) Lama-lama aku bisa jadi gila melihat tingkah lakumu itu.

3) Sarkasme
Sarkasme adalah majas sindiran yang paling kasar. Majas ini biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah.
Contoh:
a) Mau muntah aku melihat wajahmu, pergi kamu!
b) Dasar kerbau dungu, kerja begini saja tidak becus!

D. Majas Penegasan
Majas Perbandingan ialah kata-kata berkias yang menyatakan penegasan untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap pendengar atau pembaca”.Majas penegasan terdiri atas tujuh bentuk berikut.

1) Pleonasme
Pleonasme adalah majas yang menggunakan kata-kata secara berlebihan dengan maksud menegaskan arti suatu kata.
Contoh:
a) Semua siswa yang di atas agar segera turun ke bawah.
b) Mereka mendongak ke atas menyaksikan pertunjukan pesawat tempur.

2) Repetisi
Repetisi adalah majas perulangan kata-kata sebagai penegasan.
Contoh:
a) Dialah yang kutunggu, dialah yang kunanti, dialah yang kuharap.
b) Marilah kita sambut pahlawan kita, marilah kita sambut idola kita, marilah kita sambut putra bangsa.

3) Paralelisme
Paralelisme adalah majas perulangan yang biasanya ada di dalam puisi.
Contoh:
Cinta adalah pengertian
Cinta adalah kesetiaan
Cinta adalah rela berkorban

4) Tautologi
Tautologi adalah majas penegasan dengan mengulang beberapa kali sebuah kata dalam sebuah kalimat dengan maksud menegaskan. Kadang pengulangan itu menggunakan kata bersinonim.
Contoh:
a) Bukan, bukan, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bertukar pikiran saja.
b) Seharusnya sebagai sahabat kita hidup rukun, akur, dan bersaudara.

5) Klimaks
Klimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturutturut dan makin lama makin meningkat.
Contoh:
a) Semua orang dari anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut antri minyak.
b) Ketua Rt, Rw, kepala desa, gubernur, bahkan presiden sekalipun tak berhak mencampuri urusan pribadi seseorang.

6) Antiklimaks
Antiklimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturutturut yang makin lama menurun.
a) Kepala sekolah, guru, dan siswa juga hadir dalam acara syukuran itu.
b) Di kota dan desa hingga pelosok kampung semua orang merayakan HUT RI ke -62.

7) Retorik
Retorik adalah majas yang berupa kalimat tanya namun tak memerlukan jawaban. Tujuannya memberikan penegasan, sindiran, atau menggugah.
Contoh:
a) Kata siapa cita-cita bisa didapat cukup dengan sekolah formal saja?
b) Apakah ini orang yang selama ini kamu bangga-banggakan ?
d. Majas Pertentangan


macam-macam makna

أنواع المعنى
بعض الناس قد يظن أنه يكفى لبيان معنى الكلمة الرجوع إلى المعجم ومعرفة المعنى ألمعانى المدونة فيه. وإذا كان هذا كافيا بالنسبة لبعض الكلمات, فهو غير كاف بالنسبة لكثيرغيرها. ومن أجل هذا فرق علماء الدلالة بين أنواع من المعنى لابد من ملاحظتها قبل التحديد النهائي لمعاني الكلمات. ورغم اختلاف العلماء في حصر أنواع المعنى فإننا نرى أن الأنواع الخمسة الآتية هي أهمها :
اــ المعنى الأساسي أو الأولى أو المركزي ويسمى أحيانا المنى التصوري أو المفهومي conceptual meaning , أو الإدراكي cognitive. وهذا المعنى هو العامل الرئيسي للاتصال اللغوي، والممثل الحقيقي للوظيفة الأساسية للغة، وهي التفاهم ونقل الأفكار، ومن الشرط لاعتبار متكلمين بلغة معينة أن يكونوا متقاسمين للمعنى الأساسي . ويملك هذا النوع من المعنى تنظيما مركبا راقيا من نوع يمكن مقارنته بالتنظيمات المشابهة على المستويات الفونولوجية والنحوية.
وقد عرف Nida هذا النوع من المعنى بأنه المعنى المتصل بالوحدة المعجمية حينما ترد في أقل سياق أي حينما ترد منفردة.
۲ــ المعنى الاضافي أو العرضي أو الثانوي أو التضمني. وهوالمعنى الذي يملكه اللفظ عن طريق مايشير إليه إلى جانب معناه التصوري الخالص.
وهذا النوع من المعنى زائد على المعنى الأساسي وليس له صفة الثبوت والشمول، وإنما يتغير بتغير الثقافة أو الزمن أو الخبرة.
فإذا كانت كلمة ((امرأة)) يتحدد معناها الأساسي بثلاثة ملا مح هي (+إنسان- ذكر+ بالغ) فهذه الملامح الثلاثة تقدم المعيار للاســتعمال الصحيح للكلمة. ولكن هناك معاني إضافية كثيرة، وهي صفات غير معيارية، وقابلة للتغيير من زمن إلى زمن، ومن مجتمع إلى مجتمع. هذه المعاني الإضافية تعكس بعض الخصائص العضوية النفسية والاجتماعية، كما تعكس بعض الصفات التي ترتبط في أذهان الناس بالمرأة (كالثرثـرة وإجادة الطـبخ وليس نوع معين من الملابس)، أو التي ترتبط في أذهان جماعة معينة تبعا لوجهة نظرهم الفردية أو الجماعية، أو لوجهة نظر المجتمع ككل (استخدام البكاء – عاطفية – غير مطفية غير مستقرة).
۳ــــ المعنى الأسلوبي، وهو ذلك النوع من المعنى الذي تحمله قطعة من اللغة بالنسبة للظروف الاجتماعية لمستعملها والمنطقة الجغرافية التي ينتمي إليها. كما أنه يكشف عن مستويات أخرى مثل التخصص ودرجة العلاقة بين المتكلم والسامع ورتبة اللغة المستخدمة (أدبية - رسمية – عامية – مبتذلة .. ) ونوع اللغة (لغة الشعر- لغة النثر – لغة القانون - لغة العلم – لغة الإعلان..) والواسطة (حديث – خطبة – كتابة ...).
فكلمتان مثل father و deddy تتفقان في المعنى الأساسي ولكن الثانية يقتصر استعمالها على المستوى الشخص الحميم. و كلمات مثل sack و bag و poke تملك نفس المعنى الأساسي ولكنها تعكس اختلافا في بيئة المتكلم.
و مثل هذا يمكن أن يقال عن الكلمات التي تدل على معنى الأبوة وتعكس الطبقة التي ينتمي إليها المتكلم مثل :
داد : في لغة الأرستقراطيين و المتفرنجين
الوالد – والدي : ادبي فصيح
بابا – بابي : عامي راق
أبويا – آبا : عامي مبتذل .
و مثل هذا يمكن أن يقال عن الكلمات التي تطلق على الزوجة في العربية الحديثة (عقيلته – حرمه – زوجته – امرأته – مرته ..).
ونادرا ماتجد كلمتين تنطابقان في معناهما الأساسي تتطابقان كذلك في المعنى الأسلوبي مما حدا ببعض اللغويين إلى أن يقول ((إن الترادف الحقيقي غير موجود)).
۴ــــــ المعنى النفسي، وهو يشير إلى ما يتضمنة اللفظ من دلالات عند الفرد . فهو بدلك معنى فردي ذاتي . وبالتالي يعتبر معنى مقيدا بالنسبة لمتحدث واحد فقط ، ولايتميز بالعمومية ، ولا التداول بين الأفراد جميعا .
ويظهر هذا المعنى بوضوح في الأحاديث العادية للأفراد ، وفي كتابات الأدباء وأشعار الشعراء حيث تنعكس المعاني الذاتية النفسية بصورة واضحة قوية تجاه الألفاظ و المفاهيم المتباينة .
۵ـــــ المعنى الإيحائي ، وهو ذلك النوع من المعنى الذي ش يتعلق بكلمات ذات مقدرة خاصة على الإيحاء نظرا لشفافيتها ، وقد حصر أولمان تأثيرات هذا النوع من المعنى في ثلاثة هي :
أــ التأثير الصوتي ، وهو نوعان : تأثير مباشر ، وذلك إذا كانت الكلمة تدل على بعض الأصوات أو الضجيج الذي يحاكيه التركيب الصوتي للاسم . ويسمى هذا النوع primary onomatopoeia . ويمكن التمثيل له بالكلمات العربية : صليل (السيوف) – مواء (القطة) – حرير (الماء) ، والكلمات الإنجليزية crack و hiss و zoom. والنوع الثاني : تأثير غير المباشر ويسمى secondary onomatopoeia مثل القيمة الرمزية للكسرة (ويقابلها في الإنجليزية) التي ترتبط في أذهان الناس بالصغر أو الأشياء الصغيرة.
ب ــ التأثير الصرفي , ويتعلق بالكلمات المركبة مثل handful و redecorate و plate-hot ، والكلمات المنحوتة كالكلمة العربية صهصلق ( من صهل و صلق ) وبحتر للقصير ( من بتر وحتر ) .
حـ ــ التأثير الدلالي ، و يتعلق بالكلمات المجازية أو المؤسسة على المجاز أو أي صورة كلامية معبرة .
و يدخل في هذا النوع من المعنى ما سماه Leech بالمعنى المنعكس reflected meaning ، و هو المعنى الذي يثور في حالات تعدد المعني الأساسي ، فغالبا ما يترك المعنى الأكثر شيوعا أو الأكثر إلفا أثره الإيحائي على المعنى الآخر .
ويتضح المنى الانعكاسي بصورة أكبر في الكلمات ذات المعاني المكروهة أو المحظورة taboo مثل الكلمات المرتبطة بالجنس ، و موضع قضاء الحاجة ، و الموت ... لقد أصبح من الصعب في الإنجليزية أن تستعمل كلمة intercourse مثلا دون أن تثير ارتباطاتها الجنسية . و لم يعد الإنجليزي يجرؤ على استخـدام الاسم undertaker ( رغم عدم تحرجه من استعمال الفعل undertake ) لشيوعه في وظيفة دفن الموتى . ومثل هذا يقال عن كلمات (( حانوتي )) و (( كنيف )) و (( لباس )) العربية التي هجرت في معناها الأقدم للإيحاءات التي صار يحملها معناها الأحدث .
و في أمثال هذه الحالات ينبغي استعمال (( التلطف في التعبير )) الذي هو عمليا الإشارة إلى شيء مكروه أو معنى غير مستحب بطريقة تجعله أكثر قبولا و استساغة .
ويعترف Leech أخيرا بأن مشكلة رسم الحدود بين الأنواع السابقة و غيرها صادفنا كثيرا , و لهذا قد يختلف المحللون اللغويون في تسمية المعنى أو المعاني التي يستخلصونها من الكلمة المعينة أو العبارة المعينة .


luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com